Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Ibnu Taimiyah, Dai dan Mujahid Besar

Ibnu Taimiyah, Dai dan Mujahid Besar

Demi Allah, tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau pengikut hawa nafsu. Qodhinya para qadhi Abdul Bar As-Subky

Nama dan Nasab

Beliau adalah imam, Qudwah, `Alim, Zahid dan Da`i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah daan penghidup sunah Rasul shalallahu`alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu`ul Awal tahun 661H.

Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta`ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.



Pertumbuhan dan Ghirahnya Kepada Ilmu

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu`alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha` dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.



Pujian Ulama

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan beliau.

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.


Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma`ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.


Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.
Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.Da`I, Mujahid, Pembasmi Bid`Ah dan Pemusnah Musuh Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i yang tabah, liat, wara`, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.
Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: …tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari… Akhirnya dengan izin Allah Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.
Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.



Kehidupan Penjara
Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar. Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:
Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara:
Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.
Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari`at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.
Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid`ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA
Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah. Beliau berada di penjara ini selamaa dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur`an. Dikisahkan, dalam tiah harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau delapan puluh satu kali. Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa. Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara`, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.
Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah musuh.


read more

Perbaikan Akhlak Lewat Pesantren



Usia bangsa Indonesia hampir mencapai 62 tahun, namun sejauh ini segala bentuk sistem demi memberdayakan anak bangsa yang telah dicoba oleh para pemimpin bangsa belum mencapai hasil yang maksimal atau dapat dikatakan gagal. Alih-alih memperbaiki kondisi bangsa, justru yang terjadi krisis demi krisis silih berganti dan kondisi bangsa semakin terpuruk.

KH Said Aqil Siraj, Ketua PBNU dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa : “Kalau krisis di bidang ekonomi, hukum dan politik itu bisa diatasi, tetapi kalau krisis budaya dan moral, kita sendiri yang harus melakukan recovery, tidak bisa imam masjidil haram atau syaikhul azhar misalnya” Lebih lanjut menurut Said Aqil Siroj : “Para ulama dahulu mencipatakan bangunan sosial atas dasar saling gotong royong, yang muda percaya yang tua, yang tua percaya yang muda, yang miskin percaya pada yang kaya, yang kaya santun pada yang miskin, yang pandai mengayomi yang bodo, yang bodo percaya pada yang pinter, sekarang lepas semua. Yang bodo curiga sama yang pinter, karena takut dipinterin, yang miskin melihat yang kaya pasti curiga dari mana kekayaannya, yang muda tidak percaya lagi sama yang tua karena yang tua tidak mampu dijadikan contoh”

Irsyad Sudiro, penggagas Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMP-AM) di tingkat Nasional sepertinya sependapat dengan Said Aqil Siroj, bahwa menurutnya telah terjadi penyimpangan perilaku di tengah masyarakat kita. Perilaku yang mengesampingkan rasa malu untuk melakukan hal-hal yang bukan dalam kepantasan, dengan pemahaman bahwa telah terjadi dekadensi moral dan akhlak, sehingga memicu keterpurukan kondisi bangsa di semua sektor.


Tidak kurang Aida Zulaikha Ismeth Anggota DPD dari Propinsi Kepulauan Riau merasa berkepentingan untuk mengawal pencanangan GMP-AM di tingkat regional Propinsi Kepulauan Riau beberapa waktu yang lalu, atas dasar keprihatinan terhadap maraknya perdagangan wanita dan berbagai penyimpangan perilaku di wilayah tersebut.

Akhlak menjadi sesuatu yang sangat penting dan berharga bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, sudah barang tentu Akhlak yang mulia (Akhlaqul Karimah) bukan yang sebaliknya, mengingat dengan akhlak mulia akan membentuk watak bangsa yang berkarakter dan memiliki jati diri.


Presiden Soekarno ketika itu, dalam setiap kesempatan senantiasa mengingatkan tentang arti pentingnya nation and character building (pembangunan bangsa dan karakter), mengingat dengan memiliki karakter, suatu bangsa akan dihargai dan diperhitungkan oleh bangsa manapun didunia ini.

Akhlak mulia yang bersifat absurd sudah barang tentu memerlukan berbagai pendekatan untuk mendapatkan formula yang aplikatif sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Banyak kalangan berpendapat media yang efektif bagi perbaikan akhlak salah satunya adalah pendidikan, baik pendidikan formal maupun non-formal.


Penulis dalam masalah ini mencoba untuk melihat pendekatan melalui sekilas pembahasan pendidikan di pesantren, mengingat berdasarkan pengamatan, hingga saat ini hanya di lingkungan pesantren yang mengutamakan pendidikan akhlak.

Kedudukan Akhlak di Pesantren

Teori pendidikan menyatakan bahwa sistem pendidikan harus mempertimbangkan tiga faktor, yaitu afektif, psikomotorik dan kognitif. Katiganya harus berjalan secara bersamaan dan selaras, mengingat apabila hanya menekankan pada salah satu faktornya saja, akan berakibat pada kepincangan pendidikan itu sendiri. Kerusakan moral yang terjadi saat ini disinyalir akibat dari sistem pendidikan yang kurang memperhatikan ketiga faktor tersebut.


Kondisi yang semestinya mempertimbangkan untuk memandang pendidikan secara utuh, tidak saja pengembangan keilmuan, melainkan juga perkembangan kepribadian dan akhlak.

Pesantren atau Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang pernah ada dan merupakan media pengembangan agama Islam yang paling utama di negeri ini, hingga kini bahkan pesantren menjadi alternatif bagi menempuh pendidikan berbasis agama Islam.


Dalam sebuah lileratur disebutkan istilah pesantren secara etimologis berasal dari kata pe santri an tempatnya para santri, ada juga yang menyebutkan asal katanya sant (manusia baik) dengan tran (suka menolong), sehingga pesantren dapat diartikan sebagai tempat pendidikan manusia untuk mendapatkan kebaikan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain dengan semangat gotong royong. Sedangkan istilah pondok, terdapat analisa yang menyatakan berasal dari kata funduq (tempat menginap atau pesanggrahan bagi orang yang sedang bepergian atau mengembara).

Di lingkungan pesantren, kedudukan akhlak merupakan hal yang sangat penting dan utama bagi kehidupan. Terdapat pandangan bahwa segala amal perbuatan, baik yang berkaitan dengan persoalan hati maupun badan, ucapan atau perbuatan tidak dianggap sah apabila tanpa kebaikan akhlak.

Sebagian ulama bahkan menyatakan bahwa akhlak berkaitan erat dengan tauhid. Tauhid adalah dasar dari segala sesuatu, maka lahirlah apa yang dinamakan keimanan, dari keimanan timbul syariat, dari syariat muncullah akhlak. Artinya, jika seseorang tidak memiliki akhlak, berarti tidak memiliki syariat, jika tidak memiliki syariat berarti tidak memiliki keimanan dan itu juga berarti tidak memiliki tauhid. (Tamyiz Burhanudin, 2001)

Keutamaan akhlak di lingkungan pesantren ditunjukkan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari tokoh pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dengan karyanya berupa Kitab Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim (sopan santun atau akhlak antara pendidik dan yang dididik), yang disusun pada tahun 1343 H / 1923 M.

Bagi para santri ketika menuntut ilmu di pesantren, sudah sejak awal diberikan pemahaman betapa pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah kehidupan, sesuai dengan firman Allah SWT : ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi pengetahuan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Selanjutnya Kitab Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim juga memaparkan tentang keagungan ilmu dan ulama, mengingat sosok ulama dipandang sebagai pewaris para nabi, sebagaimana firman Allah SWT: ”Sesungguhnya, orang yang beriman dan beramal soleh adalah sebaik manusia... demikian itu berlaku bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (QS. Al-Bayyinah: 8-8). ”Sungguh, yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah ulama” (QS. Al-Fatir: 28)

Secara garis besar pola pendidikan di lingkungan pesantren sangat menitik beratkan pada pendidikan akhlak seorang santri atau murid, akhlak ustadz atau ulama guru, akhlak hubungan santri dengan ustadz dan sebaliknya, akhlak santri terhadap pelajaran, akhlak santri terhadap kitab yang dipelajari serta akhlak-akhlak lainnya yang berkaitan erat dengan pandangan hidup seorang muslim.

Pendidikan menurut Kitab Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim bukanlah transfer pengetahun, melainkan ia harus mampu membentuk akhlak yang sempurna. Pendidikan yang hanya menekankan aspek pemikiran dan melupakan aspek ilahiyah dianggap sebagai pendidikan yang tidak bisa melanjutkan idealitas pendidikan. Terdapat tiga hal yang ingin dicapai, yakni dimensi keilmuan, pengamalan dan religius. (Tamyiz Burhanudin, 2001)

Pesantren yang selama ini dianggap mempergunakan pola-pola tradisional, walaupun saat ini banyak pesantren yang telah melakukan perubahan mengikuti perkembangan yang terjadi, dapat menjadikan alternatif bagi upaya kearah perbaikan dan pendidikan akhlak. Karena dengan akhlak yang baik merupakan modal dasar bagi pembentukan karakter manusia.

Seorang bijak mengatakan : When wealth is lost, nothing is lost. When health is lost, something is lost. When character is lost, everything is lost.” (Bila harta kekayaan yang hilang, belum berarti kehilangan sesuatu. Bila kesehatan yang hilang, barulah ada sesuatunya yang hilang. Bila karakter yang hilang, berarti hilanglah segalanya).


read more

HISTORIOGRAFI PESANTREN: PERSPEKTIF METODOLOGIS Antara Ada dan Tiada

Historiografi berarti penulisan sejarah atau sejarah penulisan sejarah. Jadi historiografi pesantren dapat dipahami sebagai sebagai penulisan sejarah pesantren. Dalam konteks ini jika sejarah diartikan sebagai kisah masa lalu, maka historiografi pesantren dapat dipahami sebagai penulisan kisah masa lalu pesantren. Tulisan yang berisi masa lalu pesantren begitu berserak dalam berbagai bentuk. Terlepas memenuhi kriteria sebagai historiografi atau tidak, kisah tentang keberadaan pesantren sejak awal berdirinya sudah dapat diketahui. Pesantren dipandang sebagai kelanjutan dari bentuk mandala pada masa Hindu (Moestopo, 2001: 150; Sutjiatining & Kutoyo: 1986:51). Mandala adalah sebuah asrama bagi para pertapa atau pelajar dari agama siwa yang terletak di tengah-tengah hutan yang dipinpin oleh seorang dewa guru. Tetapi ada yang berpendapat bahwa kawikuan merupakan prototype pondok pesantren yang sekarang (Sutjiatiningsih & Kutoyo, 1986: 67). Ampeldenta di Surabaya dianggap sebagai bentuk pesantren yang telah ada sejak kwartal tiga abad 15 (Sofwan, Wasit, Mundiri, 2000). Pesantren juga ada yang mengidentikkan dengan tanah perdikan (Fokkens, 1908) Dewasa ini dikenal istilah pondok pesantren. Dari segi istilah pondok pesantren berasal dari kata funduq yang berarti asrama, dan shastri yang berarti orang yang tahu buku-buku suci agama hindu. Dengan demikian pondok pesantren berarti asrama orang-orang yang tahu buku-buku suci (Sayono, 2001). Dalam arti seperti ini pondok pesantren tidak berbeda dengan pesantren. Dalam khasanah historiografi tradisional. situasi dan kondisi pesantren telah mendapat tempat dalam berbagai karya walaupun belum menjadi unit kajian tersendiri Demikian pula dengan historiografi Kolonial, pesantren masih digambarkan secara sepotong-sepotong. Satu hal yang menarik tentang pesantren pada historiografi kolonial adalah adanya pandangan bahwa pesantren sebagai tempat berkembangnya gerakan antikolonial dan sekaligus sebagai bentuk pendidikan alternatif bagi rakyat. Berkembangnya historiografi modern Indonesia melahirkan banyak tulisan tentang pesantren, bahkan telah memfokuskan pada komponen tertentu saja dari pesantren, artinya penulisan tentang pesantren telah berkembang dengan pesat. Sebuah persoalan yang mendasar bagi para sejarawan adalah apakah penulisan tentang pesantren yang begitu beragamnya dapat dikategorikan sebagai historiografi pesantren ? Jawaban persoalan ini dapat menjadi bahan diskusi atau bahkan perdebatan, karena penulisan suatu kisah masa lalu yang lepas dari metodologi sejarah dapatkah disebut sejarah. Dalam konteks historiografi pesantren, dapatkah tulisan yang tidak menggunakan metodologi sejarah dapat dikategorikan historigrafi pesantren. Makalah ini adalah upaya menelusuri historiografi pesantren dan metodologinya, serta kemungkinan pengembangan metodologi bagi historiografi pesantren di masa yang akan datang.



Pesantren Dalam Khasanah Historiografi Tradisional

Kisah tentang pesantren dalam bingkai historiografi tradisional memberikan gambaran bahwa pesantren adalah institusi pendidikan keagamaan. Pesantren dideskripsikan sebagai tempat pendidikan yang menjadi rujukan mengembangkan nilai-nilai kesalehan berdasar Islam. Lulusan pesantren diharapkan menjadi orang yang memilikiki kesalehan iman dan kesalehan sosial yang pada saatnya setelah kembali ke masyarakat diharapkan dapat menjadi contoh dan sekaligus kader dakwah. Dalam Serat Centhini Jilid I (Pakubuwana V, 1991: 5) gambaran tentang pesantren tidaklah banyak. Disebutkan kondisi Giri (Ampel dan Giri diangap sebagai pemula model pesantren) sebagai wilayah yang ditempati oleh orang-orang Islam dipimpin oleh Sunan Giri Ada beberapa petunjuk yang disebutkan antara lain masyarakat sudah beriman, menjalankan syariat nabi, membaca Al Qur’an, dan juga mendirikan masjid. Dalam Babad Tanah Jawa (Santosa, 1970:99) hanya disebutkan adanya pesantren di Ampeldenta dengan pimpinan Sunan Ampel yang sudah memiliki banyak santri. Informasi yang lain adalah dari kitab Cebolek, yakni tentang adanya beberapa pesantren di pesisir utara Jawa Timur (Moestopo, 2001: 154-163), antara lain Surawuti di Lamongan dan Sidaresmo di Surabaya. Moestopo menjelaskan

bahwa kehidupan di pesantren mirip dengan kehidupan di mandala pada masa Hindu/Budha. Gambaran tentang pesantren yang lebih lengkap dapat dijumpai pada Babad Cariyos Lelampahanipun Suwargi R. Ng. Ronggowarsito (KomitRonggowarsito, 1979: 64-65), pesantren milik Kyai Imam Besari di Ponorogo digambarkan sebagai lingkungan pendidikan bagi santri dari berbagai daerah yang ingin menimba ilmu agama Islam. Kegiatan santri yang utama adalah belajar agama (ngaji), namun santri juga melakukan kegiatan lain bersama dengan masyarakat sekitar. Santri juga harus menyiapkan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan mandiri (bandingkan dengan Purwadi & Mahmudi, 2004).

Historiografi tradisional telah membuka informasi tentang pesantren walaupun masih sangat terbatas. Dalam perkembangannya pesantren telah menjadi bagian penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan bahkan juga Indonesia. Pesantren dianggap sebagai sarana penting yang dipergunakan untuk Islamisasi (lihat SNI Jilid III). Dalam proses tersebut terdapat gambaran bahwa pesantren adalah penyeimbang kekuasaan politis dari penguasa.



Pesantren dalam Khasanah Historiografi Kolonial

Untuk mengetahui kondisi pendidikan rakyat, pemerintah Kolonial mengadakan survey tentang keberadaan pendidikan tradisional. Dari kegiatan tersebut diketahui bahwa pesantren memang sudah ada tetapi bentuknya masih sederhana dan belum sebagaimana pesantren sekarang. Jumlah pesantren sudah cukup banyak hingga mencapai kurang lebih 300 buah (Berg, 1882). Tulisan yang menyangkut pesantren antara lain L.W.C. Berg, “De Mohammedaansche Geestelijkheid en de Geestelijk Goederen or Java en Madoera” dalam TBG Deel XXVII, 1882. Dalam tulisan ini Berg memberikan gambaran tentang pendidikan islam tradisional di Jawa dan Madura. Gambaran tentang pesantren dalam historiografi kolonial lebih beragam, beberapa penulis lain (lihat Sayono, 2001) yang membicarakan pesantren antara lain, J.F.G. Brugmun, 1857. Het Volksonderwijs onder de Javanen; F Fokkens,”De Piresterschool te Tegalsari” dalam TBG Deel XXIV, 1878. Pigeaud, de Graaf, Guillot, Van der Chjis (lihat van Bruinessen, 1999), Snouck Hurgronye,”Een Belangrijk document betreffende den Heilegen Oorlog van den Islam (1914) en Eene Officieele Correctie” dalam TBG Deel 73 , 1917, dan Achmad Djajadiningrat, “ Het Leven in een Pesantren” dalam TBB XXXIV, 1908. Tentang Materi pelajaran atau kitab yang dipelajari di Pesantren dapat dilacak dalam Berg, “ Het Mohammedaansche Godsdienstonderwijs op Java en Madoera en de Daarbij Gebruikte Arabsche Boekken” dalam TBB Deel XXXI, 1886. Gambaran tentang Kyai terdapat dalam tulisan Drewes (1925), Drie Javansche Goeroe”s. Kuantitas pesantren telah digambarkan oleh Berg, proses berdirinya pesantren digambarkan oleh Guillot dan Snouck Hurgronye, dan proses pendidikan dilakukan di pesantren digambarkan oleh Achmad Djajadiningrat. Proses berdirinya sebuah pesantren dimulai tatkala seseorang yang memiliki ilmu agama Islam membuka pengajian (pelajaran agama) di rumahnya, seiring dengan perjalanan waktu banyak orang yang belajar agama kemudian tinggal di tempat tersebut. Dari proses inilah kemudian berdiri sebuah pondok pesantren. Kegiatan sehari-hari di pesantren antara lain membaca dan melagukan ayat-ayat suci, murid secara bergantian menghadap guru untuk diperiksa hafalannya (Hurgronye, 1991). Metode pendidikan di pesantren sebagaimana dimaksud dikenal sebagai system sorogan. Deskripsi tentang pesantren dalam historiografi kolonial tetap tidak lepas dari masa historiografi tradisional yakni sebagai melihat pesantren lembaga pendidikan agama. Pada mulanya kolonial Belanda memandang bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang rendah dan tidak membawa kemajuan bagi para muridnya, namun pandangan ini berubah setelah menjelang akhir sampai awal abad 20 yang menunjukkan bahwa pesantren potensial untuk membawa masyarakat ke arah yang lebih maju. Dalam historigrafi kolonial juga menunjukkan bahwa pesantren berkembang pesat setelah perang Jawa usai, dan bahkan semakin menguat padsa akhir abad 19 dan awal abad 20 karena banyaknya orang yang menunaikan ibadah Haji. Di antara para haji ada yang kemudian membuka pesantren dan menjadi kyai. Diamati dalam beberapa tulisan mengenai Kyai, sebagai unsure terpenting keberadaan pesantren, tidak hanya dikaitkan dengan aspek pendidikan tetapi juga aspek politik, yakni sebagai salah satu agen penentang koloniaslisme. Meletusnya peristiwa di Cilegon pada tahun 1888 membuat pemerintah Belanda mengambil kebijakan untuk mengawasi guru agama (Kyai). Bukti kebijakan tersebut adalah pada tulisan Snouck Hurgronye yang menyebutkan bahwa Kyai Krapyak beserta jumlah muridnya telah terdata pada beberapa laporan residen Yogyakarta. Tulisan Van der Plas (lihat catatan kaki 193 pada Suminto: 1985) menunjukkan bahwa pemerintah Kolonial memandang guru agama adalah sosok yang berbahaya. Banyaknya gejolak politik yang disebabkan oleh para guru agama atau kyai memang tampak dari beberapa laporan residen (ANRI, 1981). Walau demikian historiografi kolonial lebih berkesan sebagai pemetaan keberadaan pesantren untuk kepentingan kolonial.



Pesantren dalam Khasanah Historiografi Modern Indonesia

Perlu ditegaskan bahwa pengertian sejarah sebagai kisah, akan membawa dampak yang sangat luas pada historiografi pesantren. Salah satunya adalah sulitya membatasi apakah sebuah kisah tentang pesantren termasuk dalam kategori historigrafi pesantren atau tidak. Banyak penulis asing atau Indonesia yang menulis tentang pesantren, tapi yang menulis dari disiplin ilmu sejarah sangat terbatas. Ada pendapat bahwa historiografi

modern Indonesia dimulai ketika Husein Djajadiningrat menulis sebuah karya berjudul Tinjauan Kritis Sejarah Banten pada tahun 1913, atau tahun 1958 ketika seminar sejarah nasional I berlangsung. Dalam makalah ini digunakan moment proklamasi kemerdekaan untuk mengawali temporal historiografi modern Indonesia, Sejak proklamasi historiografi pesantren (kisah tentang pesantren) begitu beragamnya. Makalah ini tentu saja tidak akan dapat menjangkau seluruh tulisan yang ada, hanya beberapa tulisan yang akan dibahas untuk menunjukan perkembangan historiografi pesantren dari dulu hingga beberapa tahun belakangan ini. Buku pertama yang layak disebut adalah Direktori Pesantren I, diterbitkan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta. Buku ini sangat memandu bagi pemula yang ingin mengenal pesantren. Tidak kurang 255 pesantren dituliskan secara singkat, sejak berdirinya, Kyai pendiri, santri, sarana, hingga kurikulum yang dikembangkan sekarang. Buku ini dapat digolongkan yang menulis pesantren secara menyeluruh tetapi tidak detail. P3 M sebelumnya menerbitkan buku tulisan Hiroko Horikoshi yang berjudul tentang Kyai dan Perubahan Sosial, isinya mengupas tentang peranan Kyai dalam menggerakan perubahan masyarakat di sekitarnya. Bingkai metodologi yang dikembangkan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan datanya melalui observasi dan wawancara. Kerangaka teori yang dipakai untuk mendasari kerja penelitiannya adalah mediator dan cultural broker. Teori Cultural broker pernah dipergunakan oleh Geertz dalam artikelnya berjudul The Javaneese Kijaji: The Changing Roles of a Cultural Broker, tetapi penelitian Horikoshi menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian tentang Kyai yang kemudian diterbitkan dilakukan oleh Zamakhsyari Dhofier dengan judul Tradisi Pesantren Studi tentang pandangan Hidup Kyai. Buku ini memberikan gambaran yang cukup tentang pesantren dengan berbagai tipe, dan juga menyajikan pembahasan tentang lima komponen pesantren yakni Kyai, pondok, santri, kitab kuning, dan Masjid. Sebagaimana dinyatakan penulisnya buku ini menggunakan pendekatan sosiologis dalam bentuk penelitian deskriptif analisis. Masih banyak lagi buku yang membahas tentang Kyai, antara lain: Iik Arifin Mansurnoor. 1990. Islam in an Indonesian worl ulama of Madura; Saifulah Ma’sum (ed). 1994. Menapak Jejak Mengenal Watak; Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdlatul Ulama; Pradjarta Dirdjosanjoto. 1999, Memelihara Umat Kiai Pesantren –Kiai Langgar Di Jawa; Sukamto. 1999. Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren; Abdul Jamil. 2001. Perlawanan Kiai Desa; Mohammad Iskandar. 2001. Para Pengemban Amanah, Pergulatan Pemikiran Kiai dan Ulama di Jawa Barat 1900-1950; Zainul Milal Bizawie. 2002. Perlawanan Kultural Agama Rakyat, Pemikiran dan Paham Keagamaan Sjekh Ahmad Al- Mutamakin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi (1645-1740); Endang Turmudi. 2003. Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan; Abdurrahman Mas’ud. 2004. Intelektual Pesantren Perhelatan Agama dan Tradisi; dan puluhan buku biografi Kyai yang diterbitkan oleh generasi penerus pesantren masingmasing. Beberapa buku yang membahas pesantren secara umum antara lain: Mustofa Syarif. 1980. Administrasi Pesantren; M. Dawam Rahardjo (ed). 1985. Pergulatan Dunia Pesantren Membangun dari Bawah; Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Kajian tentang Unsurndan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren; Kareel A Steenbrink. 1995. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurum Modern; Said Agil Sirajd.1999. Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Tranformasi; M Dawam Rahardjo(ed).1995. Pesantren dan Pembaharuan; dan M. Affan Hasyim et.al.2003. Menggagas Pesantren Masa Depan. Bahkan ada buku membahas sesuatu seolah-olah sebuah ironi dari dunia pesantren,

buku ini tulisan Hamdan Farchan dan Syarifuddin berjudul Titik Tengkar Pesantren. Model pendidikan yang dikembangkan juga telah dijadikan kajian tersendiri, hal ini tampak antara lain pada karya: Ali Yafii,” Kitab Kuning, Produk Peradaban Islam” dalam Pesantren, 1989.Chotibul Imam, dkk. 1998. Spesifikasi Studi Agama Islam di Beberapa Pesantren Jawa Timur. Lemlit IAIN Jakarta; dan Martin Van Bruinessen. 1999. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Dalam konteks model pendidikan, tarekat sebagai salah satu muatan pedididikan pesantren juga sudah dikaji tersendiri. Karya yang membahas tarekat antara lain karya Martin Van Bruinessen sebagaimana telah disebut sebelumnya, Bruinessen juga menulis tentang karya lain yang berjudul Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia. Karya lain adalah tulisan Mahmud Suyuthi berjudul Politik Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah Jombang. Santri sebagai salah satu komponen pesantren juga telah mendapat perhatian untuk dikaji hal ini tampak antara lain pada karya A Wahid Zaini, 1995. Dunia Pemikiran Kaum Santri; Abdul Kadir Djaelani.1994. Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia; Mark R. Woodward.1999. Islam Jawa Kesalehan Normatif Versus Kebatinan. Tulisan yang membahas kisah dunia pesantren dewasa ini sudah begitu banyak. Disamping yang telah dipaparkan sebelumnya, banyak tulisan tentang pesantren dan komponennya tersebsar di berbagai media, baik yang berupa artikel atau karya ilmiah popular tersebar di berbagai majalah ilmiah, berkala, jurnal, bulletin, dan surat kabar. Pertanyaanya adalah bagaimanakah

penempatannya dalam historiografi pesantren?



Historiografi Pesantren dalam Perspektif Metodologis

Historiografi secara umum dikelompokkan dalam dua bentuk yakni deskritif naratif dan deskritif analitis. Deskriptif naratif untuk menunjuk bentuk penulisan sejarah konvensional, dan deskriptif analisis untuk menunjukan penulisan sejarah baru atau sejarah kritis. Sebagaimana diketahui bahwa penulisan sejarah yang bentuknya deskriptif naratif dan deskritif analisis mengandung konsekuensi metodologi yang berbeda. Deskritif naratif tidak banyak memerlukan metodologi yang canggih, walaupun tetap saja harus memegang kaidah penulisan sejarah. Deskriptrif analisis adalah bentuk penulisan sejarah yang memerlukan metodologi yang tepat dengan berbagai konsep dan teori dari berbagai ilmu bantu, sehingga dapat memperoleh penjelasan yang memadai dalam merekonstruksi sebuah peristiwa masa lalu. Dalam bahasa sederhana deskriptif naratif hanya memakai seleksi berdasar common sense dan tidak membutuhkan teori dan konsep-konsep ilmu sosial, sebaliknya deskriptif analitis sejak awal penulisannya menuntut alatalat analitis, dalam hal ini misalnya dari konsep dan teori ilmu social (Kartodirdjo, 1992).Tentu saja uraian ini tidak bermaksud menyederhanakan pengertian metodologi, tetapi hanya untuk memberikan sebuah gambaran. Dalam kaitan dengan historiografi pesantren ada pendapat yang menarik dari Taufik Abdullah ( 1987), ia memberikan kerangka berpikir yang dapat dianggap sebagai metodologi. Taufik Abdullah menyatakan untuk menulis tentang pesantren setidaknya dilihat dari tiga aspek yakni pertama aspek internal pesantren; kedua, aspek jalinan mata rantai pesantren, dan ketiga, aspek hubungan dunia pesantren dengan lingkungan sekitar. Jika kita perhatikan bahwa pendapat Taufik Abdullah sudah menyentuh seluruh aspek kehidupan dunia pesantren, langkah selanjutnya adalah bagaimana cara menuliskannya menjadi sebuah historiografi (penulisan sejarah), ini menjadi tantangan tersendiri. Dari sekian banyak tulisan tentang pesantren dari historiografi tradisional, historiografi kolonial, dan historiografi modern Indonesia. hanya

beberapa tulisan ( di luar biografi kyai dan direktori pesantren) yang dengan tegas menggunakan metodologi sejarah. Beberapa tulisan tentang pesantren pada historiografi tradisional dan historiografi kolonial, untuk masuk kategori penulisan sejarah deskriptif naratif saja belum memenuhi. Dalam babad dan serat, pesantren disajikan tidak menggunakan alur sejarah yang jelas. Beberpa tulisan historiografi kolonial memang sudah terdapat tulisan tentang pesantren yang dapat dikategorikan sudah menggunakan alur berpikir sejarah, misal tulisan Fokkens tentang pesantren Tegalsari, tulisan Drewes tentang tiga orang Kyai. dan tulisan Berg tentang kitab-kitab yang dipelajari di pesantren. Demikian pula pada masa historiografi modern banyak tulisan tentang pesantren yang tidak menggunakan metodologi sejarah, tetapi menggunakan metodologi ilmu sosial lain seperti antropologi, sosiologi atau bahkan politik. Tulisan tentang pesantren yang sejak awal menggunakan metodologi sejarah, kiranya perlu dipaparkan di sini untuk mengkaji perspektif metodologinya. Buku karya Mohammad Iskandar (2001) berjudul Para Pengemban Amanah Pergulatan Kyai dan Ulama di Jawa Barat, 1900 – 1950 adalah pengembangan tesis S2 yang kemudian diterbitkan. Dapat diketahui bahwa ebagai karya kampus buku ini tidak diragukan lagi menggunakan endekatan ilmiah, artinya menggunakan perangkat metodologi dengan baik. al ini tampak pada alasan dipilihnya subtansi materi yang berkaitan dengan iri-ciri keilmuan sejarah. Pemilihan subtansi penelitian misalnya jelas sangat emperhatikan unsur change, dan growth. Demikian juga ciri sejarah yang ain yakni pemilihan spasial dan temporal penelitian, kedua hal ini telah iberikan alasan yang akademis. Dalam pengumpulan sumber, penulis elakukan studi kepustakaan (termasuk kearsipan) dan lapangan. eberhasilannya menemukan dan memanfaatkan sumber primer yang erupa Dokumen dan Arsip, menempatkan buku ini sebagai karya sejarah ang memadai. Dalam akhir kata pengantarnya Taufik Abdullah menyatakan skandar berhasil menulis sejarah lokal yang dapat memberikan kearifan kademis yang bersifat umum. Bukankah hal ini termasuk tujuan utama enulisan sejarah?.

Buku lain adalah karya Abdul Jamil (2001) berjudul Perlawanan Kiai esa: Pemikiran dan Gerakan Islam KH. Ahmad Rifai Kalisasak. Buku ini erasal ari disertasi pada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sejak awal enulisnya menyatakan bahwa buku ini adalah sejarah intelektual dan ejarah sosial, dan hasil dari sebuah penelitian sejarah. Tujuan penelitian ang dilakukan dalah untuk merekontruksi pemikiran dan gerakan Islam dari okoh KH Ahmad Rifai. Pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan osiologis yang melihat anatomi gerakan KH Ahmat Rifai melalui pemikiran, indakan, an persekutuan. Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif ang ertumpu pada hermenuetika dan fenomenologi. Sebagaimana karya skandar, karya Abdul Jamil juga menggunakan sumber primer sebagai titik olak pengembangan penelitiannya. Pada kesimpulan akhir ditunjukan ebuah tipologi gerakan kebudayaan yang disebutnya sebagai regionaltraditional-movement dengan tiga ciri yakni loyalitas lokal, ubungan

kekerabatan, dan hubungan berdasar status tradisional. Abdul Jamil pgembangkan sebuah metodologi tertentu untuk mendukung kerjanya alam kerangka sejarah intelektual dan sejarah sosial, setidaknya hal ini nampak pada digunakan analisis yang berbasis pada hermeneutika dan fenomenologi. Buku yang mirip dengan karya Abdul Jamil adalah tulisan Zainul Milal Bizawie (2002) yang berjudul Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pemikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi. Buku ini diakui penulisnya sebagai sejarah pemikiran dan merupakan kajian tentang peta pergumulan Islam Jawa. Zainul dalam studinya menggunakan metodologi yang ditawarkan oleh Mohammed Al Jabiri yang meliputi pendekatan strukturalis, sejarah, dan kritik ideologi. Secara menyeluruh Zainul mengembangkan pendekatan multidisipliner sebagaimana disarankan oleh Sartono Kartodirdjo. Jika dikaitkan dengan historiografi pesantren, apa yang dilakukan oleh Zainul (dan juga Abdul Jamil) adalah sebuah khasanah baru. Kajian tentang teks dari komunitas pesantren dengan segala implikasinya dalam kerangka studi sejarah merupakan hal yang menggembirakan. Kemampuan dalam menggunakan metodologi untuk menghasilkan sebuah sejarah pemikiran dari komunitas pesantren perlu mendapat perhatian. Buku ini memperkuat barisan historiografi pesantren yang telah menggunakan metodologi sejarah dalam penulisannya. Satu buku lagi yang perlu mendapat perhatian adalah karya Abdurrahman Mas’ud yang berjudul Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi. Buku ini walaupun tidak secara eksplisit menyatakan sebagai buku sejarah, tetapi layak untuk disebut karya sejarah. Isinya lebih mirip dengan kumpulan biografi para kyai besar pengembang pesantren di Jawa, namun deskripsinya lebih menarik karena menggunakan metodologi dengan baik. Karya seperti ini mungkin dapat disebut prosopography. Kerangka yang digunakan untuk melakukan pengkajian adalah socio-intelectual history, hal

ini memang sesuai dengan tuntutan metodologi dalam prosopography. Penggunaan teori kharisma dari Weber dan prinsip sosiologi pendidikan Durkheim dalam menjelaskan berbagai fakta, telah menempatkan buku ini pada kategori penulisan sejarah yang menggunakan metodologi, meskipun tidak semata-mata metodologi sejarah. Empat buku yang dibahas terakhir adalah buku-buku yang relative masih baru karena terbit pasca reformasi. Apakah hal ini dapat dipahami sebagai era kebangkitan historiografi pesantren ? Banyak historiografi pesantren yang menggunakan metodologi sejarah tidak diterbitkan dan hanya menjadi koleksi perpustakaan perguruan tinggi. Artinya, secara riil ada upaya untuk mengembangkan historiografi pesantren yang memiliki kualifikasi sebagai “historiografi” yang secara keilmuan dapat dipertanggungjawabkan. Barangkali dengan berdasar pada kerangka berpikir yang disodorkan Taufik Abdullah, tiga aspek yang menjadi fokus kajian tentang pesantren dapat dirumuskan metodologinya. Aspek internal pesantren yang meliputi Kyai, keluarga besar kyai, sistem pendidikan pesantren, perubahan dan perkembangan pesantren baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dan juga konflik di pesantren, dapat dirumuskan metodologinya. Misalnya tentang Kyai, sebagaimana yang sudah dipaparkan dapat dikembangkan sebuah tulisan sejarah berbentuk biografi prosopography, sejarah intelektual/sejarah pemikiran, dan sejarah mentalitas. Pemilihan bentuk tulisan tentu saja akan berpengaruh pada metodologinya. Untuk sejarah pemikiran dapat dilakukan dengan tiga pendekatan antara lain kajian teks, kajian konteks sejarah, dan kajian hubungan antara teks dan masyarakatnya (Kuntowijoyo, 2003:191). Demikian pula dengan aspek jalinan mata rantai pesantren, dapat dikembangkan tulisan sejarah lokal atau sejarah agama. Aspek hubungan dunia pesantren dengan llingkungan sekitarnya dapat dikembangkan menjadi tulisan sejarah sosial atau sejarah lisan.



Penutup

Jika pengertian historiografi dipahami sederhana sebagai penulisan sejarah pesantren dalam arti kisah tentang pesantren, maka semua tulisan

yang menyangkut pesantren baik pada masa historiografi tradisional, colonial dan modern dapat dimasukan dalam historiografi pesantren. Tetapi jika historiografi diartikan sebagai sejarah penulisan sejarah, sehingga pengertian historigrafi pesantren adalah sejarah penulisan sejarah pesantren, maka tidak semua tulisan sejarah dapat dikategorikan sebagai historiografi pesantren. Barangkali memang perlu dibedakan dengan tegas antara referensi tentang pesantren dan historiografi pesantren. Pengertian referensi tentang pesantren mempunyai cakupan lebih luas, tulisan berbentuk apa saja yang berisi tentang pesaantren masuk di dalamnya. Ketika berbicara tentang historiografi pesantren, maka ada kriteria-kriteria tertentu yang menjadi patokan, misalnya tentang metodologi dan metodenya. Akhirnya perlu mendapat perhatian tambahan dari para sejarawan yang berminat untuk mendalami pesantren, bahwa masih banyak sisi dunia pesantren yang perlu dikaji dalan kaitannya dengan perjalanan sejarah Indonesia umumnya, dan sejarah perkembangan Islam di tanah air pada khususnya. Rekonstruksi yang dibekali dengan metodologi yang baik akan memberikan pencerahan pemahaman terhadap pesantren dan komunitas “kaum sarungan” yang telah terbukti mampu bertahan sejak abad XV hingga sekarang. Historiografi pesantren yang benar-benar seperti ini akan dapat memberikan sumbangsih nyata bagi siapa saja yang membacanya.



DAFTAR PUSTAKA

Bruinessen, Martin van, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia: Survey histories, Geografis, dan Sosiologis, Bandung: Mizan, 1992.

Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1999.

Bizawie, Zainul Milal, Perlawanan Kultural Agama Rakyat, Pemikiran dan Paham Keagamaan Syeh Ahmad Al-Mutamakin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi (1645-1740), Yogyakarta: Samha, 2002.

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, 1994.

Dirdjosanjoto, Pradjarta, Memelihara Umat: Kiai Pesantren – Kiai Langgar di Jawa, Yogyakarta: LKiS, 1999.

Djamil, Abdul, Perlawanan Kiai Desa, Pemikiran dan Gerakan Islam KH. Ahmad Rifai Kalisalak, Yogyakarta: LKiS, 2001.

Farchan, Handan & Syarifuddi, Titik Tengkar Pesantren: Resolusi Konflik Masyarakat Pesantren, Yogyakarta: Pilar Media, 2005.

Gobee, E & C. Anriaanse, Nasihat-nasihat C. Smouck Hurgronye Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889 – 1936,Jilid V, Jakarta: INIS, 1991.

Hasyim, Affan, et.al., Menggagas Pesantren Masa Depan, Yogyakrta: Qirtas, 2003.

Horikoshi, Hiroko, Kyai dan Perubahan Sosial, Jakarta: P3M, 1987.

Iskandar, Mohammad, Para Pengemban Amanah Pergulatan Pemikiran Kiai an Ulama di Jawa Barat, 1900-1950, Yogyakarta: Mata Bangsa, 2001.



Kartodirdjo, Sartono, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Komiten Ronggowarsito & Sudibjo, Babad Cariyos Lelampahannipun Suwargi R.Ng. Raonggowarsito. Jakarta: Depdikbud, 1979.

Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2003.

Manurnoor, Iik Arifin, Islam in an Indonesia World Ulama of Madura, Yogyakarta: UGM Press, 1990.

Mas’ud, Abdurrahman, Intelektual Pesantren Perhelatan Agama dan Tradisi, Yogyakarta: LKiS.2004.

Moestopo, M.Habib, Kebudayaan Islam di Jawa Timur: kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan, Yogyakarta: Jendela, 2001.

Paku Buwana III, Serat Centhini (Suluk Tambangraras)Jilid I + IV,

Kalatinaken dening Kamajaya. Yogyakarta: Yayasan Centhini, 1988..

Purwadi & Mahmudi, Hidup, Cinta dan Kematian Ronggowarsito, Yogyakarta: Pion Harapan. 2004.

Sayono, Joko, “Perkembangan Pesantren di Jawa Timur”, Tesis PPS UGM Yogyakarta, 2001.

Santosa, Soewito, Babad Tanah Jawi (Galuh Mataram). Sala: Tanpa Penerbit, 1970.

Suminto, Aqib, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: LP3ES, 1985.

Sutjiatiningsih, Sri & Slamet Kutoyo, Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Timur,

Surabaya: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudyaan Daerah, 1986.

Suyuti, Mahmud, Politik Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Jombang: Hubungan Agama, Negara dan Masyarakat,Yogyakarta: galang Press. 2001.

Steenbrink, Karel A, Pesantren, Madrasah. Sekolah: pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES, 1994.

Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta: LP3ES. 1987.

Woodward, Mark R, Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, Yogyakarta: LKiS, 2004.

Zaini, A. Wahid. Dunia Pemikiran Kaum Santri, Yogyakarta: LKPSM, 1995.

read more